Sabtu, 22 Desember 2012

Tulisan tak berjudul

Hola!! :D
Haha, engga nyangka waktu mau cari data di folder lama malah ketemu tulisan yang uda lama banget.. Engga jelas pula, paragraf masi begitu, ma belum ada judulnya ckckc .__.”
-……………………………………………………………………………-
Aku tersenyum pahit melihatnya, aku bahagia namun aku juga menangis. Memang kadang ikhlas akan menjadi hal tersulit di dunia, namun juga dapat menjadi hal termudah. Aku adalah sebuah makhluk yang tinggal dalam  perasaan seseorang, kadang aku kuat dan kadang aku rapuh. Ini adalah ceritaku dalam sebuah tubuh yang dinamakan manusia.
            Aku berada dalam sebuah tubuh yang sering dipanggil Rana, sudah 16 tahun aku disini menetap dalam tubuhnya. 16 tahun aku mengenalnya, 16 tahun pula aku memahaminya. Aku memang tidak mungkin bisa berpindah ke lain tubuh, namun aku yakin kalau wadahku berbeda. Ia pemalu, nakal dan tidak berani. Sejak kecil ia selalu merasa bahwa dirinya bisa melakukan hal-hal hebat seperti di film kartun. Aku tersenyum dan tertawa kalau melihatnya membayangkan hal-hal aneh dan mencoba mempraktekkannya. Pernah suatu hari ia merasa memiliki kemampuan penciuman seperti anjing setelah ia kehilangan benda kesanyangannya, tahukah apa yang ia lakukan. Ia mulai merangkak seperti anjing dan mengendus-endus lantai, sambil megendus-endus kadang ia berkata “hmm, bau-baunya kesana nih”. Hahaha, memang lucu rasanya melihat sikapnya yang polos itu. Pernah juga, setelah iya dimarahi oleh ibunya, ia berniat untuk lari dari rumahnya menggunakan sepedanya yang berwarna pink sambil membawa uang tabungan sebesar Rp 20.000 dan tas yang berisi baju-baju dan makanan. Pelariannya berakhir di depan pintu gerbang rumahnya. Ia tidak jadi lari, setelah ia merasa takut tidak bisa bertemu dengan orang tuanya lagi. Sesudah kejadian itu ia langsung menangis dan memeluk ibunya.  
            Semakin lama, Rana beranjak dewasa. Sebuah kebahagiaan dapat melihatnya tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan itu tentu saja didampingi oleh sebuah emosi, semakin ia beranjak dewasa semakin pula ia mengenal hidup yang sesungguhnya. Masa smp nya ia lalui dengan perasaan penuh kebimbangan. Aku tahu sekarang ia sedang mencari jati dirinya, mau jadi apa ia kelak, apa tujuan hidupya, dan apa motivasinya di dunia ini. Ia jadi sering menghayal, membayangkan sesuatu yang bakal terjadi di kemudian harinya, kadang ia suka berbicara sendiri membahas khayalannya. Namun hal ini rupanya tidak terlalu dianggap positif, terutama oleh teman-temannya. Ejek-mengejek memang hal biasa dalam pergaulan, namun karena hatinya kecil, ejekan yang ia terima tak pernah ia bebaskan. Semua perkataan yang ia rasa buruk baginya terus tertinggal di hatinya, meninggalkan sebuah lubang yang tak pernah bisa terobati. Aku sedih, bagaimana ia bisa hidup esoknya bila sebuah ejekan kecil saja dapat merusak suasana hatinya. Apa ia bisa bertahan? Ia terus dan terus saja mengeluh akan banyak hal, ketidak mampuannya, fisiknya, dan bahkan ia melampiaskan kemarahannya pada saudara dan orang tuanya. Namun kekhawatiranku berangsur menghilang. Setelah ia melampiaskan kemarahannya pada saudara dan orang tuanya, aku tahu hatinya lebih terluka, ia merasa sangat bersalah telah mengeluarkan kata-kata kejamnya dan menggunakan tangannya untuk hal yang tidak baik. Ia bisa berubah, dan aku yakin.
            Sekarang ia sudah SMA, pribadinya sudah lebih matang dan ia sudah bisa mengontrol emosinya sedikit demi sedikit. Dari yang semula ia sangat tertutup, kini ia sudah agak terbuka, kawannya pun sudah lebih banyak. Hatinya sudah berubah menjadi lebih kuat, kini ia tidak peduli mau dianggap apa dirinya oleh orang lain. Ia yakin dan terus berpegang pada pendirian bahwasanya selama perbuatannya tidak merusak dan mengganggu orang lain, ia tidak akan peduli apa kata orang tersebut. Aku senang ia sudah banyak berubah. Kekhawatiranku datang kembali ketika ia mulai mempertanyakan apa yang dinamakan cinta. Ia sering mendengar teman-temannya membicarakan ketertarikan terhadap lawan jenis, ada juga teman yang bercerita padanya dan sambil menanyakan pendapatnya mengenai hal tersebut. Ketika ia mendengar dan ditanya, hanya kekosongan yang tampak di wajahnya. Matanya mungkin menanggapi, namun hatinya tidak. Hanya sebuah penglihatan yang tak bermakna, ia hanya tahu bahwa cinta merupakan ekspresi yang dilakukan antar lawan jenis, seperti nonton bareng berdua,pacaran. Hatinya tak pernah ia buka untuk siapapun. Huft, mungkin kekhawatiranku terlalu berlebih, mungkin ini memang belum saatnya untuk merasakan cinta. Biarlah nantinya waktu dan seluruh pengalaman yang akan menjadi gurunya.
Semua khayalan yang semula dianggap remeh oleh semua temannya kini terbantahkan, semua ejekkan yang dahulu ia dapat kini terbayar. Ia membebaskan semua khayalannya dan membiarkannya untuk pergi kemana pun. Hari itu tepatnya tanggal 12 Februari 2004, senyum mengembang di wajahnya, walau biasanya ia selalu diam hari ini ia tidak bisa menutup kebahagiannya. Ia melompat kesana kemari berteriak tidak jelas sambil tersenyum. Aku senang dan bangga melihatnya memenangkan sebuah lomba untuk menulis cerpen di majalah remaja. Ia menulis cerita pendek yang berjudul “Tangan Semut” dalam cerita ini ia mengkisahkan seorang anak lelaki yang berusia 8 tahun yang selalu menganggap bahwa dirinyalah yang terbodoh, ia merasa tidak memiliki talenta apapun. Namun suatu kejadian mengubahnya, ketika sang anak hendak menyerah pada keadaan, malamnya ia bermimpi tentang sebuah dunia dimana ia terlihat. Keesokan harinya ketika ia sedang menonton televisi ia melihat sebuah acara yang mengkisahkan tentang kehidupan semut. Semut dapat mengangkat beban yang 30 kali lipat lebih berat dari tubuhnya, ketika jatuh dari ketinggian ia tidak mati, dan lain sebagainya. Dari situlah sang anak tadi termotivasi, ia ingin menjadi seperti seekor semut.
        Kehidupan memang rumit, penuh dengan pilihan, kadang menyenangkan dan kadang menyusahkan. Namun dari situlah kita akan dapat mengenal semua hal, dan belajar banyak cara untuk mengatasi berbagai macam permasalahan dan perbedaan yang ada.

#Karangan sepenuhnya imajinasi dan bukan menceritakan kisah siapapun...

1 komentar: